anick

Arsip untuk ‘Cerita Figur’ Kategori

mbah Dul [Abdullah Dasuqi]

Dalam Cerita Figur di Desember 4, 2008 pada 9:21 am

Ada sosok yang aku ingat terkait dengan awal-awal aku menjadi murid madrasah. Beliau adalah mbah Dul  (almarhum). Mungkin  satu-satunya jejak dalam ingatanku yang mengaitkan mbah Dul dengan madrasah adalah ketika mendaftar madrasah. Yang disebut mendaftar, bagiku saat itu, adalah datang ke rumah mbah Dul yang difungsikan sebagai kantor madrasah dan mengambil buku bacaan. Selebihnya aku tak ingat sama sekali bagaimana aktifitas mbah Dul di madrasah. Sepertinya berhubungan dengan soal-soal administrasi dan keuangan madrasah. Atau pernik-pernik lain urusan kantor madrasah. Entah apakah mbah Dul juga mengajar atau tidak, sama sekali aku tidak tahu. Aku belum pernah dengar cerita  dari orang dan juga  tak pernah menanyakan kepada yang tahu.

Nama lengkapnya Abdullah Dasuqi. Tinggal di sebelah belakang gedung madrasah bagian Timur. Dikenal kreatif, sangat trampil dalam hal-hal teknis dan memiliki kecenderungan seni yang tinggi.  Dulu sering aku lihat, beliau membuat papan nama yang disemprot cat. Pernah juga atau nyablon kaos untuk partai. Lalu bikin kardus-kardus peci. Pernah juga sukses membuat kecap. Mereknya ABD, mungkin singkatan dari Abdullah Dasuqi. Sebelum meninggal, mbah Dul sempat bekerja di tenun Troso dan terakhir menjadi Ka-Ur Kesra (Modin) desa Pecangaan Wetan.

Untuk apapun yang telah beliau sumbangkan bagi perkembangan madrasah dan pendidikan masyarakat, kita layak menyampaikan terima kasih. al Faaatikhah………

[ditulis oleh masauf]

Mbah Tukin [Maftukhin]

Dalam Cerita Figur di November 11, 2008 pada 11:18 am

Anak-anak yang sekolah madrasah sekitar tahun 70-an hampir pasti mengenal sosok ini. Namanya Maftukhin, namun lebih dikenal dengan Mbah Tukin. Wajahnya nampak sepuh tapi kelihatan sehat. Saya tidak punya bayangan wajah muda beliau. Yang khas, kalau ngajar selalu bawa tongkat kayu, dan agak galak. Mungkin khas guru-guru jaman itu.

Suaranya lantang dan bagus. Karena itu, mbah Tukin juga menjadi muadzin tetap, dan puji-pujian jelang jamaah sholat maktubah di musholla Al Amin. Kalau bulan Romadlon, pujian sholawat bernada khas Romadlon dapat kita nikmati dari loud-speaker musholla yang gemlanthang. Satu lagi yang khas, kalau musim penghujan selalu bawa payung kelelawar yang hitam-lebar.

Mbah Tukin mengajar entah kelas berapa saya lupa, mungkin kelas-kelas awal (satu atau dua). Saat anak-anak mulai dikenalkan pada huruf Arab. Tidak ada datanya, tapi saya yakin banyak sekali anak-anak Pecangaan Wetan yang mengenal huruf pertama kali dari Mbah Tukin.

Ruang kelasnya masih berdinding gedhek (anyaman bambu) di bagian utara kompleks madrasah saat ini. Sekarang kira-kira di sekitar tiang bendera, di halaman sekolah. Hanya terdiri dari dua ruang kelas yang bagian belakangnya bolong. Di belakang gedung ada kebun yang tak terlalu luas. Ada pohon jambu monyet dan beberapa pohon mangga.

Mbah Tukin, jasanya terhadap madrasah tak terhitung. Bukan saja karena beliau mengajar dengan ikhlas, tetapi banyak yang telah beliau berikan kepada madrasah. Salah satunya, tanah yang ditempati madrasah kidul, adalah wakaf dari beliau. Dan beliau, sejauh saya tahu, tidak pernah menuntut perlakuan khusus dari madrasah.

Mbah Tukin, layak dikenang sebagai guru yang luar biasa. Saya yakin beliau tergolong mukhlisin. Untuk itu, saya mengajak pembaca, kawan-kawan KYAI membaca ummul kitab khusus untuk beliau. Al Faaatikhah…..

gambar madrasah kidul

dsc_0011dsc_0004

[ditulis oleh masauf]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.