Sampai sekarang aku tidak tahu apa arti sebenarnya sifir itu. Yang jelas, kita memahaminya sebagai kelas persiapan menuju kelas Satu. Sebutan lainnya adalah kelas Nol. Aku mengalaminya selama dua tahun. Bukan karena tak naik kelas alias ndongkol, tapi karena tahun pertama (mungkin sekitar tahun 1981) aku kelas Sifir adalah dalam status pupuk bawang alias sekolah-sekolahan.
Meski ketika kenaikan kelas disuruh oleh Mbak Mustamaroh (guruku saat itu) untuk melangkah ke kelas Satu, namun aku tetap ngotot untuk tinggal kelas dengan pelajaran yang sama kawan yang berbeda.
Status pupuk bawang menempel padaku karena waktu itu aku ikut sekolah tanpa pendaftaran secara resmi, dan terkesan ikut-ikutan. Baru setelah kenaikan kelas itulah (mungkin) aku didaftarkan secara resmi sebagai warga kelas Sifir.
Nah, ketika aku berada di kelas Dua (sekitar tahun 1984), menjelang kenaikan ke kelas Tiga, ada keputusan baru saat itu bahwa kelas Sifir akan dihilangkan. Konsekuensi penghilangan ini adalah: para siswa kelas Sifir yang naik kelas Satu diseleksi ulang, dan sebagian terbaiknya langsung dinaikkan ke kelas Dua. Konsekuensi ini juga diterapkan di kelas-kelas di atasnya.
Kebetulan aku termasuk sebagian siswa di kelas Dua yang langsung naik ke kelas Empat. Dus, tidak pernah aku alami yang namanya kelas Tiga. Dus, impaslah status ndongkolku, dibayar dengan lompatan kelas tadi.[]

