Ada sosok yang aku ingat terkait dengan awal-awal aku menjadi murid madrasah. Beliau adalah mbah Dul (almarhum). Mungkin satu-satunya jejak dalam ingatanku yang mengaitkan mbah Dul dengan madrasah adalah ketika mendaftar madrasah. Yang disebut mendaftar, bagiku saat itu, adalah datang ke rumah mbah Dul yang difungsikan sebagai kantor madrasah dan mengambil buku bacaan. Selebihnya aku tak ingat sama sekali bagaimana aktifitas mbah Dul di madrasah. Sepertinya berhubungan dengan soal-soal administrasi dan keuangan madrasah. Atau pernik-pernik lain urusan kantor madrasah. Entah apakah mbah Dul juga mengajar atau tidak, sama sekali aku tidak tahu. Aku belum pernah dengar cerita dari orang dan juga tak pernah menanyakan kepada yang tahu.
Nama lengkapnya Abdullah Dasuqi. Tinggal di sebelah belakang gedung madrasah bagian Timur. Dikenal kreatif, sangat trampil dalam hal-hal teknis dan memiliki kecenderungan seni yang tinggi. Dulu sering aku lihat, beliau membuat papan nama yang disemprot cat. Pernah juga atau nyablon kaos untuk partai. Lalu bikin kardus-kardus peci. Pernah juga sukses membuat kecap. Mereknya ABD, mungkin singkatan dari Abdullah Dasuqi. Sebelum meninggal, mbah Dul sempat bekerja di tenun Troso dan terakhir menjadi Ka-Ur Kesra (Modin) desa Pecangaan Wetan.
Untuk apapun yang telah beliau sumbangkan bagi perkembangan madrasah dan pendidikan masyarakat, kita layak menyampaikan terima kasih. al Faaatikhah………
[ditulis oleh masauf]
Aku mengingat satu hal. Ketika beliau memproduksi kecap itu, ada satu produksi ikutan dari ampas kecap itu bernama gulali. Uniknya, anak-anak sekitar membeli gulali (permen tradisional) tersebut dari beliau dengan bukur. Bukur adalah kulit kerang yang bisa dicari di jalan-jalan waktu itu.
Entah untuk untuk alasan apa memakai bukur, atau untuk apa bukur itu kemudian digunakan, yang pasti bukur dalam jumlah tertentu akan ditukar gulali dalam jumlah tertentu.
kok aku sama sekali gak tahu atao gak ingat soal gulali dan bukur ini yaa….., menarik