Ada moment penting dalam hubunganku dengan madrasah secara ‘resmi’. Yaitu, hari pertama aku menjadi murid madrasah. Lamat-lamat aku ingat, setelah diijinkan sekolah madrasah oleh orang tua, siang itu aku disuruh datang ke rumah mbah Dul (Abdullah Dasuqi) almarhum, yang difungsikan layaknya kantor madrasah, untuk mendaftar dan mengambil buku bacaan. Aku lupa judulnya, tapi setiap murid yang mendaftar langsung mendapatkan buku itu. Isinya kata-kata pendek dalam bahasa Arab, mungkin kayak buku-buku “Qiro’aty” atau “Iqro’” sekarang ini. kalau di SD mungkin kayak “Ini Budi”-nya.
Bukan main senangnya rasanya saat itu. Sebab, meskipun tiap hari aku ada di lingkungan madrasah, malah secara ‘ilegal’ sudah ikut-ikutan sekolah, hadir di kelas, tapi aku belum punya status murid. Hari itu, aku resmi menjadi murid Athfal Islam. Hal yang, kata orang tuaku, aku rengekkan setiap hari, menjadi murid madrasah. Wuiihh…! Aku lupa, tapi katanya, aku terobsesi masuk madrasah karena ingin segera bisa menyelipkan buku di bawah peciku. Begitulah gaya anak-anak madrasah yang lagi ngetrend saat itu. Buku yang cuma satu atau dua tidak dibawa dalam tas seperti anak-anak sekarang, tetapi disisipin di bawah peci. Jadi mirip pakai topi, buku-buku itu yang jadi tudung topinya. Rasanya, keren sekali. Kami juga belum pakai sarung untuk murid kelas satu sampai tiga. Hampir semuanya pakai celana pendek. Jarang yang pakai celana panjang.