anick

Archive for Desember, 2008|Monthly archive page

Takbir Keliling

Dalam Kabar dan Peristiwa di Desember 14, 2008 pada 5:26 pm

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar…

Laa ilaahaillallaahu Allaahu Akbar,

Allaahu Akbar Walillaahilkhamd,

Tepat ba’da maghrib tanggal 7 Desember 2008 kemarin siswa-siswi Madrasah Athfal Islam melaksanakan takbir keliling. Kegiatan ini dikoordinir oleh ISMAI dan telah menjadi tradisi bertahun-tahun di Athfal Islam. Meskipun cuaca kurang mendukung, karena hujan turun sejak siang hari dan gerimis masih menyertai saat pelaksanaan, namun tidak mengurangi antusiasme peserta takbir keliling ini.

Dengan semangat tinggi siswa-siswi, terutama dari tingkat Awwaliyah, telah datang ke madrasah sejak sore harinya. Apalagi takbir keliling ini juga sekaligus dilombakan antar kelas dan ada hadiah yang disediakan. Kegiatan ini kegiatan yang menghibur, berhadiah sekaligus berpahala. satu paket kegiatan yang lengkap.

Seperti biasa, rute konvoi mengelilingi jalan-jalan di Desa Pecangaan Wetan. Dan tentu saja sambutan masyarakat sangat luar biasa. Sejak habis sholat maghrib mereka telah menunggu di jalur yang akan dilewati konvoi. Tak sedikit orang tua siswa yang mengikuti perjalanan konvoi hingga kembali lagi ke Athfal Islam.

Di bawah ini beberapa gambar yang merekam kegiatan takbir keliling tersebut.

idul-adha-1429-7des08-15idul-adha-1429-7des08-18

Berlatih dulu sebelum atraksi di jalanan

idul-adha-1429-7des08-22idul-adha-1429-7des08-231

Siap-siap diberangkatkan………

idul-adha-1429-7des08-3

idul-adha-1429-7des08-28idul-adha-1429-7des08-35idul-adha-1429-7des08-48idul-adha-1429-7des08-49idul-adha-1429-7des08-58

Allaahu Akbar..Allaahu Akbar..Allahu Akbar, takbir keliling beraksi di jalanan seputar Pecangaan Wetan

idul-adha-1429-7des08-7idul-adha-1429-7des08-64

Antusiasme masyarakat

Lebih banyak lagi gambar, dapat dilihat di koleksi foto.

Takbir Keliling Iedul Adha 1429 [foto]

Dalam Koleksi Foto di Desember 14, 2008 pada 5:17 pm

Hari Pertama Masuk Madrasah

Dalam Kenangan di Desember 4, 2008 pada 9:26 am

Ada moment penting dalam hubunganku dengan madrasah secara ‘resmi’. Yaitu, hari pertama aku menjadi murid madrasah. Lamat-lamat aku ingat, setelah diijinkan sekolah madrasah oleh orang tua, siang itu aku disuruh datang ke rumah mbah Dul (Abdullah Dasuqi) almarhum, yang difungsikan layaknya kantor madrasah, untuk mendaftar dan mengambil buku bacaan. Aku lupa judulnya, tapi setiap murid yang mendaftar langsung mendapatkan buku itu. Isinya kata-kata pendek dalam bahasa Arab, mungkin kayak buku-buku “Qiro’aty” atau “Iqro’” sekarang ini. kalau di SD mungkin kayak “Ini Budi”-nya.

Bukan main senangnya rasanya saat itu. Sebab, meskipun tiap hari aku ada di lingkungan madrasah, malah secara ‘ilegal’ sudah ikut-ikutan sekolah, hadir di kelas, tapi aku belum punya status murid. Hari itu, aku resmi menjadi murid Athfal Islam. Hal yang, kata orang tuaku, aku rengekkan setiap hari, menjadi murid madrasah. Wuiihh…! Aku lupa, tapi katanya, aku terobsesi masuk madrasah karena ingin segera bisa  menyelipkan buku di bawah peciku. Begitulah gaya anak-anak madrasah yang lagi ngetrend saat itu. Buku yang cuma satu atau dua tidak dibawa dalam tas seperti anak-anak sekarang, tetapi disisipin di bawah peci. Jadi mirip pakai topi, buku-buku itu yang jadi tudung topinya. Rasanya, keren sekali. Kami juga belum pakai sarung untuk murid kelas satu sampai tiga. Hampir semuanya pakai celana pendek. Jarang yang pakai celana panjang.

mbah Dul [Abdullah Dasuqi]

Dalam Cerita Figur di Desember 4, 2008 pada 9:21 am

Ada sosok yang aku ingat terkait dengan awal-awal aku menjadi murid madrasah. Beliau adalah mbah Dul  (almarhum). Mungkin  satu-satunya jejak dalam ingatanku yang mengaitkan mbah Dul dengan madrasah adalah ketika mendaftar madrasah. Yang disebut mendaftar, bagiku saat itu, adalah datang ke rumah mbah Dul yang difungsikan sebagai kantor madrasah dan mengambil buku bacaan. Selebihnya aku tak ingat sama sekali bagaimana aktifitas mbah Dul di madrasah. Sepertinya berhubungan dengan soal-soal administrasi dan keuangan madrasah. Atau pernik-pernik lain urusan kantor madrasah. Entah apakah mbah Dul juga mengajar atau tidak, sama sekali aku tidak tahu. Aku belum pernah dengar cerita  dari orang dan juga  tak pernah menanyakan kepada yang tahu.

Nama lengkapnya Abdullah Dasuqi. Tinggal di sebelah belakang gedung madrasah bagian Timur. Dikenal kreatif, sangat trampil dalam hal-hal teknis dan memiliki kecenderungan seni yang tinggi.  Dulu sering aku lihat, beliau membuat papan nama yang disemprot cat. Pernah juga atau nyablon kaos untuk partai. Lalu bikin kardus-kardus peci. Pernah juga sukses membuat kecap. Mereknya ABD, mungkin singkatan dari Abdullah Dasuqi. Sebelum meninggal, mbah Dul sempat bekerja di tenun Troso dan terakhir menjadi Ka-Ur Kesra (Modin) desa Pecangaan Wetan.

Untuk apapun yang telah beliau sumbangkan bagi perkembangan madrasah dan pendidikan masyarakat, kita layak menyampaikan terima kasih. al Faaatikhah………

[ditulis oleh masauf]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.