Tujuhbelas tahun yang lalu, tepatnya tanggal 18 Mei 1991, sebuah organisasi siswa madrasah Athfal Islam dilahirkan. Namanya ISMAI, singkatan dari Ikatan Siswa Madrasah Athfal Islam. Meskipun namanya “siswa” namun menjangkau “siswi” juga. Rapat pembentukan digelar di musholla Athfal Islam. Sekitar lima belasan siswa-siswi melingkar di dekat jendela bagian utara musholla. Hanya beberapa nama yang saya ingat persis, antara lain Afdloli (Guntur Demak), Nuryanto (Lebuawu) dan Munfakhoti (Troso). Saya, juga hadir karena kebetulan saya yang menggagas organisasi ini.
Nama lain yang sempat dipertimbangkan sebagai nama organisasi adalah DESIS MAI, singkatan dari Dewan Siswa Madrasah Athfal Islam. Namun akhirnya nama ISMAI yang dipilih, karena simpel dan mudah diingat. Tujuannya, waktu itu, juga tidak muluk-muluk. Hanya menginginkan adanya organisasi siswa-siswi yang dapat membantu guru-guru untuk aktifitas yang berhubungan dengan siswa-siswi, misalnya, lomba-lomba antar kelas pada saat khaflah akhir sanah atau sehabis imtikhan.
Sebelumnya, guru-guru selalu memiliki kerja ganda saat-saat seperti ini. Mulai dari mengoreksi hasil ulangan, menyelesaikan penulisan buku raport, hingga mengurusi lomba-lomba antar kelas. Masa-masa menunggu pembagian raport akan membuat anak-anak cenderung liar kalau tidak diisi dengan kegiatan, karena tidak ada lagi pelajaran yang harus disampaikan di kelas. Setelah ada ISMAI, setidaknya beberapa kegiatan siswa dapat dikelola sendiri oleh pengurus ISMAI.
Tak terasa, hampir 20 tahun ISMAI hadir di tengah-tengah Athfal Islam. Telah banyak karya yang dikerjakan. Dari yang remeh-temeh hingga yang prestisius. Melalui ISMAI, siswa-siswi Athfal Islam pernah mengikuti lomba gerak jalan di Kabupaten Jepara. Pernah pula bekerjasama dengan Polsek Pecangaan menyelenggarakan pengajian umum memperingati 50 tahun Bhayangkara. Musyawarah malam Minggu dan malam Rabu juga pernah dikelola oleh ISMAI. Bahkan tradisi bahtsul masa’il pernah hidup dalam tradisi siswa-siswi Athfal Islam melalui ISMAI.
Di luar itu, keberadaan ISMAI juga telah melahirkan siswa-siswi yang menjadi organisatoris handal. Dari yang tidak mengenal organisasi, hingga mampu berkiprah dalam organisasi di luar Athfal Islam. Banyak siswa-siswi yang berangkat dari pengalaman di ISMAI mampu ‘bebicara’ di sekolah-sekolah umum pagi hari. Alumni pengurus ISMAI, lebih-lebih ketuanya, saat ini telah tersebar kemana-mana dalam pelbagai organisasi. Mungkin lain kesempatan, kita kisahkan siapa-siapa mereka itu dan di mana saat ini mereka berkiprah.
Saat ini, ISMAI masih terus berkiprah membantu guru-guru dan seluruh siswa-siswi Athfal Islam, mulai tingkat Awwaliyah, Wustha hingga Ulya. Tentu tidak selamanya, dalam tujuh belas tahun yang telah dijalani ini, ISMAI dalam kondisi terbaiknya. Barangkali, ke depan harus dikembangkan lebih baik lagi agar ketrampilan berorganisasi menjadi ketrampilan standar yang dimiliki oleh seluruh siswa-siswi Athfal Islam.





