anick

Archive for November, 2008|Monthly archive page

ISMAI [1]

Dalam Orbit Athfal Islam di November 14, 2008 pada 2:24 pm

Tujuhbelas tahun yang lalu, tepatnya tanggal 18 Mei 1991, sebuah organisasi siswa madrasah Athfal Islam dilahirkan. Namanya ISMAI, singkatan dari Ikatan Siswa Madrasah Athfal Islam. Meskipun namanya “siswa” namun menjangkau “siswi” juga. Rapat pembentukan digelar di musholla Athfal Islam. Sekitar lima belasan siswa-siswi melingkar di dekat jendela bagian utara musholla. Hanya beberapa nama yang saya ingat persis, antara lain Afdloli (Guntur Demak), Nuryanto (Lebuawu) dan Munfakhoti (Troso). Saya, juga hadir karena kebetulan saya yang menggagas organisasi ini.

Nama lain yang sempat dipertimbangkan sebagai nama organisasi adalah DESIS MAI, singkatan dari Dewan Siswa Madrasah Athfal Islam. Namun akhirnya nama ISMAI yang dipilih, karena simpel dan mudah diingat. Tujuannya, waktu itu, juga tidak muluk-muluk. Hanya menginginkan adanya organisasi siswa-siswi yang dapat membantu guru-guru untuk aktifitas yang berhubungan dengan siswa-siswi, misalnya, lomba-lomba antar kelas pada saat khaflah akhir sanah atau sehabis imtikhan.

Sebelumnya, guru-guru selalu memiliki kerja ganda saat-saat seperti ini. Mulai dari mengoreksi hasil ulangan, menyelesaikan penulisan buku raport, hingga mengurusi lomba-lomba antar kelas. Masa-masa menunggu pembagian raport akan membuat anak-anak cenderung liar kalau tidak diisi dengan kegiatan, karena tidak ada lagi pelajaran yang harus disampaikan di kelas. Setelah ada ISMAI, setidaknya beberapa kegiatan siswa dapat dikelola sendiri oleh pengurus ISMAI.

Tak terasa, hampir 20 tahun ISMAI hadir di tengah-tengah Athfal Islam. Telah banyak karya yang dikerjakan. Dari yang remeh-temeh hingga yang prestisius. Melalui ISMAI, siswa-siswi Athfal Islam pernah mengikuti lomba gerak jalan di Kabupaten Jepara. Pernah pula bekerjasama dengan Polsek Pecangaan menyelenggarakan pengajian umum memperingati 50 tahun Bhayangkara. Musyawarah malam Minggu dan malam Rabu juga pernah dikelola oleh ISMAI. Bahkan tradisi bahtsul masa’il pernah hidup dalam tradisi siswa-siswi Athfal Islam melalui ISMAI.

Di luar itu, keberadaan ISMAI juga telah melahirkan siswa-siswi yang menjadi organisatoris handal. Dari yang tidak mengenal organisasi, hingga mampu berkiprah dalam organisasi di luar Athfal Islam. Banyak siswa-siswi yang berangkat dari pengalaman di ISMAI mampu ‘bebicara’ di sekolah-sekolah umum pagi hari. Alumni pengurus ISMAI, lebih-lebih ketuanya, saat ini telah tersebar kemana-mana dalam pelbagai organisasi. Mungkin lain kesempatan, kita kisahkan siapa-siapa mereka itu dan di mana saat ini mereka berkiprah.

Saat ini, ISMAI masih terus berkiprah membantu guru-guru dan seluruh siswa-siswi Athfal Islam, mulai tingkat Awwaliyah, Wustha hingga Ulya. Tentu tidak selamanya, dalam tujuh belas tahun yang telah dijalani ini, ISMAI dalam kondisi terbaiknya. Barangkali, ke depan harus dikembangkan lebih baik lagi agar ketrampilan berorganisasi menjadi ketrampilan standar yang dimiliki oleh seluruh siswa-siswi Athfal Islam.

Halal bi Halal 1429

Dalam Kabar dan Peristiwa di November 14, 2008 pada 12:06 pm

bercanda

Tanggal 4 Oktober 2008, atau 4 Syawal 1429 yang lalu, alumni Madrasah Ulya Athfal Islam angkatan tahun 1999 menyelenggarakan halal bi halal. Kegiatan yang telah dilaksanakan kedua kalinya ini bertempat di rumah Abdul Aziz Saifurrohman Pecangaan Wetan (tahun sebelumnya di rumah Burhanuddin Lebuawu). Kegiatan ini dihadiri oleh segenap lulusan ulya angkatan ini beserta keluarganya. Meskipun sederhana, acaranya cukup hangat dan sangat bermanfaat untuk menjaga jalinan kekerabatan antar alumni.

Gambar-gambar ini diambil dari kegiatan itu.

mushofakhah-diiringi-sholawatramah-tamah

sekelas tiga siswa

Dalam Orbit Athfal Islam di November 13, 2008 pada 10:37 am

Seingatku, ketika madrasah Ulya pertama kali terbentuk hingga kelas tiga, siswanya hanya tiga orang sampai lulus. Kalau tidak salah, mereka itu adalah Ahmad Syarif (nama lengkapnya menjadi Ahmad Syariful Wafa), sekarang jadi Kyai di Jenu Tuban Jawa Timur). Lalu, Abdul Mukhit (sekarang tinggal di Batam Kepulauan Riau), dan, Ahmad Syafiul Hasan (sekarang di Athfal Islam Pecangaan). Itu sekitar tahun 1986-an atau berapa tepatnya lupa.
Kalau tidak salah ingat, adik kelasnya juga lulus hanya dengan tiga orang siswa. Sayangnya saya tidak ingat, siapa saja mereka. Ada yang ingat dan bisa menambah data ini?

[ditulis oleh masauf]

sekolah ngesot

Dalam Orbit Athfal Islam di November 12, 2008 pada 9:41 am

Saya lupa, mulai kapan madrasah Athfal Islam tak lagi punya kelas yang ngesot, duduk di lantai. Seingat saya, sekitar tahun 1983, ketika kelas III wustho saya masih sekolah sambil ngesot. Ada yang ingat?

Mbah Tukin [Maftukhin]

Dalam Cerita Figur di November 11, 2008 pada 11:18 am

Anak-anak yang sekolah madrasah sekitar tahun 70-an hampir pasti mengenal sosok ini. Namanya Maftukhin, namun lebih dikenal dengan Mbah Tukin. Wajahnya nampak sepuh tapi kelihatan sehat. Saya tidak punya bayangan wajah muda beliau. Yang khas, kalau ngajar selalu bawa tongkat kayu, dan agak galak. Mungkin khas guru-guru jaman itu.

Suaranya lantang dan bagus. Karena itu, mbah Tukin juga menjadi muadzin tetap, dan puji-pujian jelang jamaah sholat maktubah di musholla Al Amin. Kalau bulan Romadlon, pujian sholawat bernada khas Romadlon dapat kita nikmati dari loud-speaker musholla yang gemlanthang. Satu lagi yang khas, kalau musim penghujan selalu bawa payung kelelawar yang hitam-lebar.

Mbah Tukin mengajar entah kelas berapa saya lupa, mungkin kelas-kelas awal (satu atau dua). Saat anak-anak mulai dikenalkan pada huruf Arab. Tidak ada datanya, tapi saya yakin banyak sekali anak-anak Pecangaan Wetan yang mengenal huruf pertama kali dari Mbah Tukin.

Ruang kelasnya masih berdinding gedhek (anyaman bambu) di bagian utara kompleks madrasah saat ini. Sekarang kira-kira di sekitar tiang bendera, di halaman sekolah. Hanya terdiri dari dua ruang kelas yang bagian belakangnya bolong. Di belakang gedung ada kebun yang tak terlalu luas. Ada pohon jambu monyet dan beberapa pohon mangga.

Mbah Tukin, jasanya terhadap madrasah tak terhitung. Bukan saja karena beliau mengajar dengan ikhlas, tetapi banyak yang telah beliau berikan kepada madrasah. Salah satunya, tanah yang ditempati madrasah kidul, adalah wakaf dari beliau. Dan beliau, sejauh saya tahu, tidak pernah menuntut perlakuan khusus dari madrasah.

Mbah Tukin, layak dikenang sebagai guru yang luar biasa. Saya yakin beliau tergolong mukhlisin. Untuk itu, saya mengajak pembaca, kawan-kawan KYAI membaca ummul kitab khusus untuk beliau. Al Faaatikhah…..

gambar madrasah kidul

dsc_0011dsc_0004

[ditulis oleh masauf]

Sekolah Madrasah

Dalam Orbit Athfal Islam di November 3, 2008 pada 11:40 am

Salah tetapi kaprah, kita menyebut sekolah madrasah. Padahal artinya ya sama saja, setali tiga uang antara sekolah dengan madrasah. Hanya yang satu bahasa Arab satunya bahasa Indonesia serapan dari bahasa Inggris atau mungkin bahasa Belanda. Tapi itulah kebiasaan di kampung kami. kadang diantara kami, anak-anak Pecangaan, kami menyebutnya sekolah Arab, untuk membedakan dengan sekolah umum, yang kami sebut juga sekolah Njowo.

Sepulang sekolah umum (SD), sekitar tengah hari jam 12-an, makan siang, lalu kami bermain beberapa bentar di sekitar rumah. Sekitar jam satu siang kami sudah di obrak-obrak orang tua untuk sholat dzuhur dan bersiap untuk sekolah madrasah di Athfal Islam, yang masuk sekitar setengah dua atau jam dua siang. Inilah rutinitas yang kami (saya) jalani akhir tahun 70-an hingga awal 80-an.  Tentu saja menjadi rutinitas bagi banyak kawan dan anak-anak sekitar Pecangaan Wetan, terutama, sebelum tahun-tahun itu dan setelahnya hingga hari ini. Pelbagai perubahan tentu saja terjadi. Situasi, antusiasme orang-orang yang terlibat dan pelbagai bagai hal lainnya. Namun, tak pelak madrasah atau sekolah madrasah menjadi bagian penting dalam hidup kami semua.

dscn03493

Lomba-lomba Haflah [foto]

Dalam Koleksi Foto di November 3, 2008 pada 9:35 am

Gedung Madrasah [foto]

Dalam Koleksi Foto di November 3, 2008 pada 8:39 am

Athfal Islam [1]

Dalam Orbit Athfal Islam di November 3, 2008 pada 8:14 am

Athfal Islam, nama sebuah lembaga pendidikan agama atau lebih tepatnya sebuah madrasah. Terletak di  Kampung Krajan Desa Pecangaan Wetan Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara Jawa Tengah, atau di Jalan Panenan nomor 02 Pecangaan. Dalam dokumen-dokumen resmi, setidaknya yang saya tahu, dinyatakan berdiri pada tahun 1947, atau dua tahun setelah kemerdekaan Indonesia. Tokoh di belakang pendirian ini adalah KH. Sya’roni dan K. Salim Zein. Diteruskan oleh generasi berikutnya, anak-anak mbah Sya’roni dan mbah Salim, keponakan, menantu dan sebagainya. Kemudian banyak figur lain dari Pecangaan Wetan dan sekitarnya juga memiliki peran yang tidak kecil untuk melestarikan dan mengembangkan madrasah ini.

Athfal Islam, arti harfiahnya adalah anak-anak Islam. Entah siapa yang mencetuskan nama ini. Tidak ada dokumen yang menjelaskan atau kesaksian soal ini. Barangkali karena ini adalah sebuah lembaga yang meletakkan pendidikan untuk anak-anak Islam sebagai inti urusannya. Atau sebuah harapan untuk membentuk anak-anak yang ‘layak’ menyandang sifat Islam di dalam dirinya. Entah mana yang benar, namun keberadaannya yang telah mapan jauh sebelum banyak lembaga pendidikan agama menjamur di seputar kecamatan Pecangaan memiliki citra tersendiri di tengah masyarakat. Athfal Islam juga bisa dibilang menjadi madrasah tertua di kecamatan Pecangaan.

Tak dipungkiri kalau keberadaan madrasah Athfal Islam [MAI] sangat berpengaruh terhadap corak keberagamaan masyarakat Pecangaan yang religius. Murid-murid MAI, dulunya, berasal dari desa Pecangaan Wetan sendiri, Pecangaan Kulon, Pulodarat, Lebuawu, Troso, Rengging, bahkan ada pula beberapa yang berasal dari desa-desa yang lebih jauh. Banyak alumni MAI yang kemudian mengembangkan pendidikan di desa-desa sekitar Pecangaan Wetan. Karena itu, belakangan murid-murid MAI ‘menyempit’ dari Pecangaan Wetan saja dan beberapa desa lain yang lebih dekat, karena hampir setiap desa memiliki madrasah sendiri.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.